SISIPAGI – Mengenang Prof. Azra dengan prahara karya dan utas-kehormatan yang diraihnya adalah memori sejarah tersendiri. Beliau merupakan legendaris di dunia kepenulisan, rajin menulis bak jurnalis.
Penulis sekaligus jurnalis intelektual itu pergi
Sebuah kabar duka datang melanda masyarakat tanah air khusus bagi kawan-kawan di dunia pewarta alias jurnalis memiliki duka mendalam. Tanggal 18 September 2022 datang kabar duka dari negara tetangga yaitu Malaysia yang memberi kabar bahwa sang Guru, Professor, Sir. Azyumardi Azra meninggal.
Saat beliau dalam perjalan sebagai dosen tamu untuk mengisi kuliah di sana beliau harus berpulang. Tepat pesawat mendarat di Bandara Kuala Lumpur. Beriring kabut sore duka itu datang melintasi negri betapa sang guru harus pergi.
Kamis sore. Hari menjelang umat Islam berbuka puasa sunnah dimana hari itu segala amal baik diperlihatkan ditengah beliau juga dalam perjalanan untuk memberi ilmu sebagai amal jariayah.
Wajar saja jika cuitan dari Prof. Haidar Nasir menyatakan bahwa beliau syahid. Subahanallah semoga beliau diterima di sisi Allah dan keluarga yang ditinggkan diberikan ketabahan.
Di bulan yang sama kabar duka juga datang dari britania dimana Ratu Elizabeth II yang memberikan gelar Sir untuk beliau. Telah lebih dahulu pergi dalam waktu yang relatif berdekatan bahkan sangat berdekatan di bulangyang sama.
Prof. Azra dan duka kami generasinya
“Hanya terisisa sebuah karangan yang bisa kami berikan padamu wahai Guru bangsa adalah karangan Fatihah. Doa dan munajat tulus di hati semoga dikau diluaskan kuburan sebab amal-amal jariahmu.”
Karya-Karya Sang Guru
Tentu kita semua sedih dan saya pribadi merasakannya karena berguru pada beliau dari banyak karya-karya yang beliau tulis. Diantara karya beliau: Menuju Masyarakat Madani (1999), Dari Harvard hingga Makkah (2005), Menjaga Indonesia dari Kebangsaan Hingga Masa Depan Politik Islam (2020), dan masih banyak lagi karya buku lainnya.
Tidak hanya menulis buku,jurnal, artikel, esay dan banyak lagi bersebaran di media masa sejak di Panjimas media yang dikepalai Prof. Hamka yang juga merupakan idola atau role model beliau.
Artinya tulisan beliau beredar sejak rezim orde baru hingga melintasi masa dan masuk di babak reformasi 98 berlanjut hingga hari ini. Beliau seorang aktivis sejak dahulu hingga menjadi rektor. Itulah Prof. Azra dengan segala prahara karyanya yang kuat dilterasi dan melintasi masa ke masa.
Utas-Kehormatan
Dari proses panjang menulis beliau, sobat pena bisa membaca buku karya Andina Dwifatma berjudul Cerita Azra Biografi Cendikiawan Muslim. Diulas dengan lengkap melalui proses wawancara dengan Prof. Azra secara langsung dalam proses penyususnannya.
Dalam buku tersebut dikisahkan juga bagaimana proses Prof. Azra mendapat gelar Sir dari Ratu Elizabeth langsung.
“Banyak tokoh publik intenasional sejak Goerge Bush sampai Tony Blair dan (Azra) merupakan Indonesia pertama yang mendapat gelar Commander of the Order of British Empire (CBE) dari Ratu Inggris ini”. Tulis Andina dalam bukunya.
Kehormatan itu untuk Indonesia
Pada kesempatan lain Prof. Azra mengatakan bahwa beliau menerima gelar ini untuk, “Indonesia untuk kita semua” ujarnya.
Beliaupun menjelaskan bahwa gelar ini didapatkan karena narasi dalam karyanya telah sampai dan dibaca oleh Ratu Elizabeth baik jurnal atau artikel yang berbahasa Inggris dan narasi lainnya bermuatan peradaban yang dianggap moderasi dan menjembatani perdamaian antara ras hingga agama dan lain sebagainya.
Untuk aspek humoniora dan sosial budaya inilah yang membuat Prof. Azra tidak memiliki alasan untuk menolak gelar kehormatan dan satu-satunya dalam sejarah diberikan untuk orang Indonesia. Dengan kesehajaan beliau terima, toh juga teruntuk bagi bangsanya tercinta.
Setulus cinta Legacy dari Sang Guru
Inilah sosok Prof. Azyumardi Azra, seorang guru bangsa, aktivis, jurnalis, penulis hebat sebagai cendikiawan yang dimiliki Indonesia. Dan menyejarah dalam arti legacy yang diwariskan.
Untuk menggambarkan hati saya layaknya lagu “sayonara” yang dinyanyikan oleh Monita Tahera, sekalselamat jalan guru namun cintamu “berpatri dan bertaut pada bintang-bintang kan jadi kenangan sepanjang masa”.
Karya dan kegihiahanmu dalam menulis akan saya jadi api cinta, ya api cinta selamanya. Sampai berjumpa di monumen karya dan cinta.
Sayonara
Leave a Reply